AMURANG SULUT 

Korupsi Tanggul Pemecah Ombak, Dua ASN BPBD Minsel Jadi Tersangka Siapa Bosnya?

Bagikan!

Nirmalanews. Com – Amurang – Kejaksaan Negeri (Kejari) Amurang kembali menggebrak. Kasus dugaan korupsi proyek tanggul penguat pantai yang penyelidikannya dimulai Oktober 2016 tersebut Kejari menetapkan tiga orang menjadi tersangka. Ketiganya diketahui berinisial HK alis Han dan SP alias Stev yang berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) dan C0 sebagai kontraktor penyedia barang.

Menurut Kepala Kejari Amurang Lambok Sidabutar SH, ketiganya ditetapkan tersangka setelah mendapatkan bukti-bukti telah ada kerugian negara sebesar Rp 1,6 miliar dari total anggaran proyek Rp 4,5 miliar. Dari hasil penyidikan sampai mendatangkan ahli dari Polikteknik Bandung, didapati volume pekerjaan yang dilaksanakan hanya 45 persen dari kontrak.

“Memang tahap penyelidikan sampai penyidikan dan penetapan tersangka cukup lama. Itu karena kami tidak ingin tergesa-gesa dan akhirnya kewalahan di pengadilan nanti. Nah dari penyelidikan kami dapati penyimpangan pelaksanaan proyek sampai Rp 1,6 miliar. Lantaran hanya 45 persen saja volume yang dikerjakan. Itu baru dari satu sumber pembiayaan saja. Sedangkan diproyek yang saat ini berdiri jalan boulevard ada dua sumber,”tukas Sidabutar saat menggelar konfrensi pers.

Dia juga menyinggung bahwa proyek penguat pantai di Kelurahan Ranoyapo tersebut sudah bermasalah dari awal. Pertama pelaksanaan proyek tidak melalui proses lelang alias penunjukan langsung. Dengan alasan telah terjadi bencana sehingga ditetapkan status gawat darurat. Sedangkan dari data yang diperoleh saat proyek dilaksanakan tidak ada bencana.

“Misalnya begini,di Minsel ada dana tanggap darurat bencana sebesar Rp 15 miliar dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN). Dana tersebut baru dapat digunakan bila terjadi status gawat darurat. Untuk memuluskan agar dana tersebut dipakai, maka ditetapkan pada tahun 2016 Minsel berstatus tanggap darurat bencana sehingga dana tersebut dapat digunakan. Sementara sesuai data tidak ada bencana di Minsel tahun 2016 yang layak mendapatkan status tanggap darurat. Jadi penetapan itu saja sudah bermasalah dan ancamannya bisa sampai hukuman mati”papar Lambok yang baru setahun menjabat Kajari Amurang.

Sebelumnya Kajari juga memaparkan bahwa dugaan dana yang bermasalah sebesar Rp 20 miliar di proyek BPBD. Anggaran tersebut terdiri dari Rp 15 miliar bersumber APBN dan Rp 5 miliar lewat APBD. Anggaran ini dipergunaan untuk pengaman pantai di Ranoyapo yang sudah ada tersangka, pekerjaan proyek penguatan tebing di Suluun, Pengaman pantai Desa Ongkaw dan perkuatan tebing Desa Karimbow. Dari empat proyek, baru satu diperiksa dan telah ditetapkan tersangka.

“Seluruh proyek di BPBD Minsel total kurang lebih Rp 20 miliar. Anggaran ini digunakan membangun empat proyek. Kan baru satu yang kita periksa dan sudah saya katakan tiga orang dijadikan tersangka. Namun dari hasil ini bisa diasumsikan proyek yang lain juga bermasalah. Pasti kami akan usut sampai tuntas siapa yang menjadi dalang. Makanya mohon kami dibantu menuntaskannya,”pinta Kajari.

Ketika ditanyakan mengapa ketiganya tidak langsung ditahan, berbeda dengan kasus OL. Dikatakan Kajari tidak ada permasalahan. Sebab penahanan tersangka ada dua unsur yakni obyektif dan subyektif. “Misalnya apakah tersangka ada kemungkinan melarikan diri, menghilangkan barang bukti dan lainnya. Selama diasumsikan tersangka tidak melakukannya, maka tidak wajib ditahan. Sekali lagi itu tergantung juga subyektif penyidik. Namun yakin saja kasus ini kami bongkar sedalam-dalamnya. Memang mungkin ada serangan balik pada kami, makanya mohon ditolong,”janjinya.

Memperkuat penanganan kasus tanggul penguat pantai, Kejari Amurang telah memintakan supervisi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Jadi jangan dipikir kami main-main. Satu persatu pasti diselesaikan. Sekedar pemberitahuan saja, ada banyak kasus dugaan korupsi yang sudah dikeluarkan perintah penyelidikan. Tunggu saja penuntasannya dan itu pasti. Kami tidak ingin terburu-buru, lebih baik sedikit lebih lambat namun selesai dan pelaku masuk penjara.(Ambon)

Related posts